Karya Mamungkah Madya, Mubug Padagingan Saha Padudusan Agung di Pura Dalem Kintamani
Beranda / Berita

Pusat Informasi & Berita

Ikuti perkembangan program kerja terbaru.

Pariwisata

Karya Mamungkah Madya, Mubug Padagingan Saha Padudusan Agung di Pura Dalem Kintamani

K
Admin Bangli
21 June 2012
466 Dilihat
Karya Mamungkah Madya, Mubug Padagingan Saha Padudusan Agung di Pura Dalem Kintamani

Dalam rangka ngaturang upacara Yadnya Padudusan Agung yang akan diselenggarakan pada Wheraspati Pon Landep tepatnya tanggal 28 Juni yang akan datang maka pada hari kamis (21/6) kemarin di Pura Dalem kintamani telah diselenggara kan Upacara Macaru Resigana, Mlaspas Agung, Mubug padagingan dan Ngodal Ida Batara sebagai rangkaian dari prosesi upacara Madya Utama yang sudah disepakati oleh panitia karya.

Manggala karya yang sekaligus Bendesa adat Kintamani I Nyoman Sukadya menjelaskan bahwa karya pada Pura dalem ini sudah pernah mengambil Utamaning Utama dimana pelaksanaannya pada saat dibangunya Pura Dalem ini yaitu pada Tahun 1972. Untuk saat ini pengambilan upakara hannya sampai pada tinggkat Madya Utama dengan menggunakan wewalungan seperti: Kambing, Asu Blang bungkem, bebek bulu sikep, Angsa dan ayam mancawarna.
Dijelaskan lebih lanjut sebelum terselenggaranya upacara terlebih dahulu diawali dengan renopasi beberapa tempat seperti Bale Paselang, Pemaruman, Bale Pasanekan dan Bale Gong yang menghabiskan biaya kurang lebih Rp.600 juta, untuk upacaranya sendiri diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp.200 juta. Dikatakan Sumber dananya berasal dari urunan warga yang di empon oleh 1000 KK terbagi dalam 6 banjar yaitu: Br Wanasari, Br swakarma, Jaya Maruti, Wira Darma, Wanagiri dan Wana Prasta ditambah dana punia dan bantuan dari pemerintah kabupaten.
I Nyoman Sukadya juga menjelaskan untuk Pacaruan pada hari ini di puput oleh tiga sulinggih yaitu gria Siwa Ida padanda Rai Gede keramas, Rsi Bujangga Gria Kehen Bangli dan Ida Padanda Budha dari Selat Nongan. Sebelum upacara puncak satu hari sebelumnya akan dilaksanakan Upacara Mapapada pada Bhuda Pahing Landep yaitu tanggal 27 dimana saat itu adalah sebagai penyucian hewan yang akan dijadikan korban dalam upacara tersebut dan akhirnya dilanjutkan dengan upacara puncak pada keesokan harinya yaitu Mendak Nuntun dan Ngenteg Linggih.
Tujuan dari upacara ini tiada lain adalah untuk tetap menyelaraskan dan menjaga keseimbangan alam sesuai dengan konsep Tri Hita Karana Hubungan Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Alam dam Manusia dengan Lingkungan. "Semoga dengan dilaksanakannya Upacara ini masyarakat pengempon pura dan sekitarnya selalu diberkahi keselamatan dan kerahayuan" harapnya.
Bagikan Berita Ini: