Dalam Rangka perayaan malam Siwaratri, kemarin (10/01) Bupati Bangli beserta SKPD Kab Bangli melakukan persembahyangan bersama di Desa Pakraman Pulasari Br. Pulasari Desa Peninjoan Kecamtan Tembuku. Dala Kesempatan tersebut turut hadir Bupati Bangli beserta Ibu Erik Gianyar, Wakil Bupati Beserta Nyonya Sariasih Sedana Arta, Ketua PHDI Drs. Nyoman SUka, Unsur Muspida, SKPD dan Masyarakat Setempat. Acra di pusatkan di Wantilan Pura Puseh Desa pakraman Pulasari yang diisi dengan acara darmawacana dari PHDI.
Bupati Bangli I Made Gianyar dalam kesempatan tersebut menyampaikan beberapa hal yaitu kaitanya dengan perayaan malam siwaratri. Yang mana malam tersebut merupakan momentum untuk setiam umat Hindu melakukan perenungan akan hakekat Hidup didunia ini, yantg tiada lain adalah untuk menjalankan ajaran darma sesuai dengan tuntunan agam hindu. Selain itu Bubati Bangli juga menekankan kepada masyarakat agar menerapkan Tri Sandya dalam keseharian masing masing indipidu sesuai dengan tuntunan, Pada Pagi Hari, Siang hari dam malam hari. Terutama pada generasi muda diharapkan agar tetap menjaga hubungan antar sesame baik dalam pergaulan diekolah maupun di masyarakat terlebih dengan umat beragama lainnya sesuia denga konsep Tri Hita Karana. “ kebaikan bangle tergantung dari masyarakatnya, Kebaikan kita adalah kebaikan Kabupaten Bangli” imbuhnya.
Sedangkan Ketua PHDI Kab Bangli Drs. I Nyoman Suka menyampaikan bahwa mala mini adalah malam yang paling penting bagi umat hindu dimana pada mala ini merupakan malam yang paling gelap yang sering disebut “Peteng Pitu” dalam perjalanan umat hindu malam ini tepat sesuai dengan kisahnya sang pemburu lubdaka yang juga melaksanakan malam siwaratri, dimana lubdaka tidak tidur selama semalam suntuk untuk menyelamatkan diri dari Binatang buas dan yang lainnya sehingga pada akhirnya disitu dirinya merenungi dan berkonsentrasi untuk tetap terjaga sambil memetik daun pohon yang akhirnya sampai pada 36 lembar sehingga kaitanya dengan perayaan Siwaratri diharapkan pada umat hindu bisa tidak tidur selama 36 jam dan berpuasa. Ditambahkan lagi tujuan dari perayaan malam siwaratri ini adalah sesuai dengan kondisi perputaran planet yang merupakan malam yang paling malam (Peteng Pitu) maka mala mini adalah malam yang paling tepat untuk dapat merenungi apa yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia sehingga dengan perenungan tersebut diharapkan kedepan kita dapat melangkah hal yang lebih baik tidak lagi “mabuk” sesuai dengan ajaran agama yang di sebutkan dengan Sapta TImira”. Tambahnya saat memberi darmawacana di depan masyarakat Br. Pulasari. Selain itu dengan perayaan siwaratri ini kita dapat mempererat hubungan dengan sesama. “Kepada truna truni diharapkan agar tidak melakukan siwaratri sampai keluar desa sehingga dapat meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan dan lain sebagainya”. harapnya.