Seiring dengan perkembangan pariwisata Bali yang semakin pesat dan dipilihnya Bali sebagai penyelenggaraan event-event besar berkelas dunia, merupakan salah satu keuntungan bagi kabupaten/kabupaten kota di wilayah ini untuk mempromosikan dan menjual produk pariwisata unggulan masing-masing. Sejalan dengan hal tersebut, peran pelaku pariwisata (pedagang souvenir dan pemandu wisata) memegang peran penting dan sangat menentukan kepuasan wisatawan. Untuk itu para pelaku pariwisata ini sangat membutuhkan perhatian khusus dan pembinaan secara berkala. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli Drs. Nyoman Adnyana, saat membuka Bimbingan Teknis Pelayanan Prima Kepada Pelaku Pariwisata tahun 2013. Acara yang dipusatkan di Restoran Suling Bali, Kintamani, menghadirkan narasumber Ketua HPI Bali Sang Putu Subaya dan Ketua ASITA Bali Ketut Ardana.
Lebih lanjut Nyoman Adnyana menyampaikan, jauh sebelum pariwisata Bali berkembang sedemikian pesat, diera 80an obyek wisata Kintamani pernah menjadi primadona bagi wisatawan. Namun dalam beberapa tahun kebelakang, obyek wisata Kintamani mulai ditinggalkan oleh wisatawan karena citra buruk yang melekat. Seperti fisik alamnya yang tidak tertata dengan baik dan sumber daya manusia pendukung obyek ini seperti pemandu wisata lokal dan pedagang souvernir sempat mendapat image suka memaksa dan membuat kurang nyaman wisatawan yang berkunjung ke obyek ini. Namun Nyoman Adnyana tidak menepis tudingan tersebut. Namun birokrat asal Batur ini menegaskan, Kintamani sekarang sudah berubah. Bisa dilihat obyek wisata penelokan yang sudah ditata sedemikian rupa. Dan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan, pemandu wisata lokal dan pedagang souvernir sudah kita bina secara berkelanjutan, seperti yang kita lakukan hari ini”terangnya.
Dikatakan juga, untuk meningkatkan pengetahuan para pemandu lokal dan pedagan souvernir Kintamani, dalam waktu dekat kita akan mengajak mereka melakukan study ke beberapa obyek wisata yang pengelolaanya sudah baik, salah satunya obyek wisata Danau Beratan, Bedugul, Tabanan. Ini merupakan salah satu program kita untuk memulihkan kembali citra obyek wisata kintamani dimata wisatawan. “Khusus untuk pedagang souvernir dan pemandu lokal, kedepan keberadaan mereka kita harapkan tidak lagi dianggap menjadi parasif, melainkan menjadi satu kesatuan dalam pembangunan pariwisata Kintamani”tegas Adnyana.

Sementara itu Ketua Panitia Penyelenggara Wayan Merta mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para pelaku pariwisata seperti pedagang souvenir dan pemandu wisata lokal, mengenai pelayanan prima serta Sadar Wisata dan Sapta Pesona, sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan. Sedangkan jumlah peserta dari kegiatan ini adalah 100 orang pedagang souvenir dan pemandu wisata dari sebagian restaurant dan objek wisata di Kabupaten Bangli.
Sementara itu Ketua HPI Bali Sang Putu Subaye pada kesempatan itu mengakui kalau obyek wisata Kintamani sudah mulai berubah. Baik dari pembangunan fisik maupun SDM pendukungnya. Namun pihaknya masih melihat ada beberapa hal yang masih harus dibenahi. Sehingga pembenahan mutlak dilakukan, mengingat dewasa ini persaingan produk pariwisata semakin ketat. Tidak saja persaingan antara obyek lokal, melainkan dengan obyek wisata Internasional. “Menghadapi persaingan ini, kita dituntut memiliki produk pariwisata yang berkelas sesuai dengan kebutuhan wisatawan”ucapnya.
Pihaknya sangat mengapresiasi apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan Pemkab Bangli dalam upaya pemulihan citra Kintamani seperti sedia kala. “Bimtek ini merupakan langkah tepat, karena langsung menyentuh ke akar permasalahan. Mudah-mudahan dengan kerja keras dari semua pihak, obyek wisata Kintamani kembali menjadi icon pariwisata Bali”harapnya.