Kesemerautan tata ruang Obyek Wisata Penelokan Kintamanidan sekitarnya yang semakin menjadi-jadi, nampaknya membuat Bupati Bangli I Made Gianyar mulai gerah. Menyikapi hal tersebut, Senin (10/2) bertempat di Gedung BMB, Bupati Bangli Made Gianyar langsung mengambil langkah cepat dengan memanggil seluruh pimpinan SKPD untuk membahas persoalan ini.
Bupati Made Gianyar pada kesempatan itu menyampaikan, Kintamani hingga saat ini merupakan icon dari pariwisata Kabupaten Bangli selain beberapa obyek lain seperti Pura Kehen dan Desa Tradisional Penglipuran. Namun dalam kurung waktu beberapa tahun belakangan, obyek wisata Kintamani terus mengalami degradasi akibat kurangnya pemahaman masyarakat disekitar untuk ikut menjaga keberlangsungan obyek ini. Padahal menurut Bupati Made Gianyar, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, pemerintah Kabupaten Bangli dalam hal ini telah melakukan ivestasi yang cukup besar untuk menata wajah obyek wisata Penelokan dan sekitarnya dan meningkatkan sumber daya manusia pendukung pariwisata seperti pedagang souvernir dan pemandu lokal. Mereka kita ajak berstudy tour ke sejumlah obyek wisata di luar Bangli yang secara manajemen telah tertata dengan baik seperti obyek wisata Tanah Lot dan Bedugul, Kabupaten Tabanan. Namun kenyataan yang terjadi sekarang, wajah obyek wisata Penelokan yang secara fisik sudah tertata sedemikian cantiknya, dinodai dengan kehadiran pasar desa yang tumpah ruah mengotori sentra obyek wisata Kintamani ini. Belum lagi para pedagang yang membangun lapak tenda dari terpal dan bambu yang semakin menimbulkan pemandangan kumuh. Padahal pemerintah Kabupaten Bangli telah membuat kesepakatan dengan masyarakat khususnya para pedagan pasar desa. Mereka dibolehkan berdagang di sekitaran obyek wisata penelokan, dengan kosekwensi sebelum pukul 10.00 wita atau jam kunjungan wisatawan dimulai, obyek wisata Penelokan harus sudah steril dari aktivitas pasar desa. Namun kenyataanya sekarang, kesepakatan ini mulai dilanggar terlebih lapak pedangan ini dibiarkan begitu saja seusasi mereka berjualan. Selain itu, keluhan klasik kembali ditujukan kepadapedagang souvernir dikawasan ini, dimana mereka masih terkesan memaksa saat menjajakan barang dagangannya. Sehingga pihaknya akan mengambil langkah “Kejadian ini sungguh mengkawatirkan, sudah dipastikan ini akan menggangu kenyamanan wisatawan yang berkunjung ketempat ini. Sehingga harus segera diambil tindakan kongkrit untuk menyelamatkan obyek wisata Penelokan, agar jangan sampai ditinggalkan wisatawan”ucap Made Gianyar.
Lebih lanjut, Bupati asal Desa Bunutin Kintamani ini juga menyoroti masalah retribusi tiket masuk dikawasan Penelokan, yang diduga masih ada oknum petugas pemungut tiket yang bermain mata dengan travel agen yang membawa wisatwan ke kawasan ini. Permasalahan ini juga harus segera ditindak lanjuti. Khusus untuk mengatasi permasalahan pedagang dikawasan obyek wisata, pihaknya segera akan merancang Perbup Tata Niaga Obyek Pariwisata. Dalam Perbup Tata Niaga ini akan diatur siapa saja yang boleh berjualan, apa saja yang boleh dijual dan kawasan mana saja boleh dimanfaatkan untuk berjualan. “Selama ini kita telah menggunakan kecerdasan berfikir untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul, namun kalau langkah ini dirasa belum cukup, langkah terakhir yang akan kita tempuh adalah memanfaatkan kecerdasan eksekusi “Jadi kalau pendekatan secara preventif tidak berhasil, langkah yang kita tempuh adalah dengan tindakan tegas. Kalau diperlukan dengan melibatkan pihak Kepolisian”tegas Made Gianyar.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli Drs. Wayan Adnyana mengatakan, untuk mengatasi dugaan bocornya retribusi tiket masuk ke kawasan obyek wisata Penelokan, pihaknya dalam waktu dekat akan menyampaikan surat edaran yang berisi himbauan kepada travel agen dan pelaku pariwisata, bilamana mengajak wisatwan ke kawasan obyek wisata Penelokan Kintamani agar membeli tiket sesuai dengan jumlah wisatawan yang dibawa. Selain itu akan dibentuk tim yang melibatkan unsur Pol PP, Perhubungan, Dispenda, Kejaksaan dan Kepolisian yang nantinya akan berugas melakukan uji petik kendaraan yang membawa wisatawan ke obyek wisata Kintamani. Apakah jumlah tiket yang dibayarkan sudah sesuai dengan jumlah wisatwan yang dibawa. Apabila ditemukan kecurangan, maka tim akan melakukan pungutan ulang sesuai dengan jumlah wisatwan. “Ini langkah yang akan kita tempuh untuk mengatasi permasalahan obyek wisata Kintamani”terangya.