Gerakan Sayang Ibu dan Bayi Baru Lahir (GSI-B) merupakan gerakan yang dilakukan bersama masyarakat dengan pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup perempuan, melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap penurunan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir. Dengan demikian GSI-B adalah gerakan yang berpusat pada ibu dan bayi, utamanya ibu hamil, melahirkan, nifas serta bayi. Demikian dikatakan Wakil Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, saat menerima kedatangan tim penilai GSI-B tingkat Provinsi Bali di Wantilan Desa Wisata Penglipuran, Kamis (3/7).
lebih lanjut Wabup asal Desa Sulahan Susut ini menyampaikan, keberhasilan program GSI-B akan memberikan andil yang besar dalam upaya meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) jika perhatian semua pihak, khususnya suami dan keluarga terdekat serta Bidan dan PLKB selalu dalam kondisi SIAGA (siap, antar, jaga). Terlebih masyarakat melalui gerakan ini diharapkan dapat dikmaknai secara benar maksud dan tujuannya, sehingga terdorong untuk melakukan upaya-upaya yang berbasis kebersamaan, kepedulian terharap sesama, khususnya perhatian terhadap ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas serta bayi baru lahir.
Oleh karenanya program-program seperti ini harus terus ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun operasional pendukungnya. Sehingga dalam kesempatan ini, pihaknya menyambut antusias kedatangan tim penilai untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja GSI-B di Kabupaten Bangli. Kita berharap dalam penilaian ini, tim penilai bisa melaksanakan penilaian seobyektif mungkin. Sehingga hasilnya nanti dapat dijadikan acuan evaluasi untuk perbaikan program kegiatan dikemudian hari. "Itu harapan kita melalui kegiatan ini"harap Sedana Arta.
Sementara itu ketua tim penilai lomba GSI-B tingkat Provinsi Bali tahun 2014 di Kabupaten Bangli Ida Ayu Candrawati mengatakan, rendahnya kualitas hidup perempuan, baik dalam bidang kesehatan, kemampuan ekonomi, pendidikan dan faktor budaya yang kurang mendukung, dapat berakibat pada tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan tingginya Angka Kematian Bayi (AKB), sehingga berdampak pada penurunan angka harapan hidup. Disisi lain, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) harus sudah dimulai sejak janin masih dalam kandungan karenan proses pada saat itu proses pertumbuhan dan perkembangan manusia sudah berlangsung.
lebih lanjut disampaikan, pembinaan kualitas anak Bayi Lima Tahun (Balita) merupakan upaya mendasar bagi perkembangan SDM masa depan, dimana periode Balita adalah periode yang paling kritis dalam menentukan kualitas SDM, karena masa lima tahun pertama kehidupan merupakan masa masa yang sangat pendek dan cepat, dimana pertumbuhan sel otak anak mencapai 85% serta tidak dapat diulang lagi, sehingga sering disebut masa keemasan (golden age periode), jendela kesempatan (window opportunity) atau masa kritis (critical periode).
Dikatakan juga, tujuan dari penilaian GSI-B adalah untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan revitalisasi GSI-B di kabupaten/kota. Malalui penilaian ini diharapkan peran pembinaan dan fasilitasi kabupaten/kota menjadi lebih optimal. Menurutnya, dari evaluasi pelaksanaan GSI-B di Provinsi Bali, data 3 tahun terkahir masih menunjukkan hasil yang berfluktuasi, namun demikian, kita masih dapat mempertahankan AKI dibawah 100/100.000 kelahiran hidup, sementara target AKI MDG's 102/100.000 KH. Data AKI tahun 2011 sebesar84,25/100.000 KH, menunjukkan peningkatan ditahun 2012 sebesar 95,33/100.000 KH, tahun 2013 menurun menjadi 72,07/100.000 KH. Disisi lain, AKB dalam 3 tahun terakhir menunjukkan penurunan, dimana tahun 2011 sebesar 7,21/1000 KH, tahun 2012 AKB Bali 6,37/1000 KH dan tahun 2013 turun menjadi 5,49/1000 KH. Sedangkan AKB MDG's 23/1000 KH. "Kita berharap dengan pelaksanaan yang optimal dan terintegritas antara pemerintah dengan masyarakat, GSI-B mampu menjadi jawaban dari generasi Indonesia yang berkualitas"harapnya.