Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya menurunkan angka kematian Ibu (AKI) karena melahirkan dan angka kematian Bayi (AKB), Selasa (30/9) MelaluiRumah sakit Kabupaten Bangli di gelar acara Evaluasi Gerakan Sayang Ibu dan Bayi (GRSSI-B) tingkat Provinsi. Acara yang di gelar di ruang pertemuan RSUD Kabupaten Bangli dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, Direktur RSUD Kab Bangli, Kepala BPPKB Kabupaten Bangli, Camat Bangli dan pegawai RSUD Kabupaten Bangli.
Ketua Panitia dr. I Wayan Sudiana,M.Kes selaku Plt. Direktur RSUD Kabupaten Bangli dalam laporannya menyampaikan RSUD dan sektor lainnya telah berkomitmen untuk memperbaiki derajat kesehatan masyarakat, terutama ibu dan bayi. Berbagai inisiatif dan program telah dijalankan sebagai upaya mengatasi masalah kesehatan ibu, bayi dan anak, PONED, PONEK dan Rumah Sakit Sayang ibu dan Bayi. Lanjut, Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang menjadi indikator kualitas kesehatan masyarakat di suatu negara, ternyata masih tergolong tinggi di Indonesia yaitu AKI 228/100.000 KH (SDKI, 2007) dan AKB 34/1000 KH (SDKI, 2007) sedangkan target tujuan pembangunan millenium (MDGs) 2015, AKI 102/100.000 KH dan AKB 23/1000 KH. Untuk dapat mencapai target tersebut diperlukan suatu strategi yang handal dan peran serta seluruh lapisan masyarakat. Wayan Sudiana menambahkan salah satu penyebab utama darikematian Ibu dan Bayi adalah Pendarahan (27%), eklamsi
(23%), Infeksi (11%), dan abourtus (5%) (SKRT,2001). Sedangkan penyebab utama kematian neonatus 0-6 hari adalah gangguan atau kelainan pernafasan (35,9%) prematouritas (32,4%) dan sepsis (12%) serta neonatus 7-28 hari adalah Sepsis (20%), malformasi (18,1%, pneumonia (15,4%) (Riskesdas, 2007).
Berdasrkan data tersebut diatas dr. I Wayan Sudiana menyampaiakan kegiatan GRSSI-B sanagtlah perlu diakukan dengan tujuan umum meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara terpadu dalam upaya menurunkan angka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian Bayi (AKB). Tujuan lebih dalam adalah untuk melaksanakan dan mengembangkan standart pelayanan perlindungan ibu dan Byi, termasuk kepedulian ibu dan bayi serta kesiapan rumahsakit dalam melaksanakan fungsi pelayanan obstetri dan neonatus termasuk pelayanan kegawat daruratan (PONEX 24 jam) secara terpadu dan Paripurna.
dr. I Wayan Sudiana menambahkan dalam emplementasi dari program GRSSI-B ini, meliputi revitalisasi Pokja Rumahsakit Sayang Ibu dan Bayi periode 2014, Rapat Pokja RSSI-B, Koordinasi lintas sektoral dalam pembinaan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan RSSI-B tingkat Kabupaten, menyelenggarakan pelatihan dan monitoring serta evaluasi keberhasilan pelaksanaan 10 langkah perlindungan Ibu dan Bayi.
Bupati Bangli Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil BupatiBangli Sang Nyoman Sedana Arta menyampaikan, Anak merupakan Generasi penerus Bangsa yang menjadi tumpuan serta harapan orang tua, oleh karena itu mereka perlu diasiapkan agar kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu berperan secara aktif dalam pembangunan nasional. Gerakan Sayang Ibu dan Bayi merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian Ibu dan Bayi.
Gerakan Sayang Ibu dan Bayi perlu dilakukan karena sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sangat menentukankeberhasilan suatu pebangunan. “pembentukan SDM yang baik dapat ditentukan dari janin sejak dalam kandunga, karena perkembangan otak terjadi selama hamil dan sampai anak berusia 5 tahun” tandasnya.
Gerakan Rumah sakit sayang ibu dan bayi (GRSSI-B) diharapkan dapat menekan angka kematian Ibu dan Bayi, Kelahiran anak dan Ibu merupakan slah satu wujud hak asasi perempuan dan anak, sehingga kesehatan Ibu dan Anakkhususnya bayi, merupakan tugas bersama antara Pemerintah, Masyarakat dan semua komponen masyarakat. “Dengan Gerakan Sayang Ibu dan Bayi (GRSS-B) dokter, bidan, perawat, manajemen rumah sakit dapat bekerjasama un tuk menekan angka kematian Ibu dan Bayi” harapnya.
Sementara Ketua tim dari Provinsi Bali, dr.Ni Made Laksmiwati menyampaiakan gerakan Sayang Ibu dan Bayi sudah menjadi tugas kita bersama dengan semua komponen, sihingga dengan pelaksanaan GRSSI-B ini seluruh Kabupaten/kota akan dapat melakukan langkah-langkah yang lebih komprehensif untuk penangan permasalahan berkaitan dengan upaya untuk menekan tingginya kematian Ibu dan Bayi, “karena untuk indonesia angka tersebut masih cukup tingggi terutama di daerah-daerah pelosok” jelasnya.
Selain itu disamping mengoptimalkan kinerja Pokja GRSSI-B, kerjasama tim dari RSUD juga harus semakin solid dalam setiam perencanaan kegiatan serta melakukan evaluasi program untuk dapat menetukan keberhasilan dari setiap kegiatan yang sudah menjadi agenda dan program dari kegiatan GRSSI-B. “Keberhasilan GRSSI-B sangat di tentukan oleh solid tidaknya semua komponen dalam mengimplementasikan semua sektor dalam menekan angka kematian Ibu dan Bayi”imbuh dr. Ni Made Laksmiwati.
Beranda /
Berita
Pusat Informasi & Berita
Ikuti perkembangan program kerja terbaru.
Pariwisata
•
Evaluasi Gerakan Rumah Sakit Sayang Ibu Dan Bayi (GRSSI-B) Di Rumah Sakit Umum Bangli 2014
K
Admin Bangli
01 October 2014
•
498 Dilihat