SMKN 1 Tembuku Duta Bangli Dalam Lomba KSPAN Tingkat Provinsi
Beranda / Berita

Pusat Informasi & Berita

Ikuti perkembangan program kerja terbaru.

Pariwisata

SMKN 1 Tembuku Duta Bangli Dalam Lomba KSPAN Tingkat Provinsi

K
Admin Bangli
12 November 2014
534 Dilihat
SMKN 1 Tembuku Duta Bangli Dalam Lomba KSPAN Tingkat Provinsi
Program Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba (KSPAN) merupakan program yang sangat strategis dalam membentengi generasi muda dari “tsunami” Aids dan penyalahgunaan Narkoba. Dengan memberi pemahaman sejak dini dan berkelanjutan kepada anak didik. Berdasarkan data epidemiologi di Kabupaten Bangli telah tercatat 172 kasus HIV/Aids dimana 7 orang telah meninggal. Oleh karenanya sebagai komunitas yang relatif mudah dijangkau, sekolah merupakan media yang tepat sebagai ajang sosialisasi  pencegahan HIV/Aids. Demikian dikatakan Wakil Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta saat penilaian Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba (KSPAN) tingkat Provinsi Bali di SMKN 1 Tembuku, Selasa (11/11). 
Lebih lanjut Wabup Sedana Arta menyampaikan, persoalan penyakit menular seksual khususnya Aids di Bangli walaupun masih relative kecil jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali, tetapi sangat penting secara dini mendapat perhatian khususnya kelompok masyarakat yang rentan terhadap prilaku seksual yang beresiko tinggi agar pekembangannya dapat ditekan. Demikian juga dengan pemakai Narkoba, sebagian besar dari mereka adalah usia sekolah. Oleh karenannya, penting bagi kita semua untuk sedini mungkin mencegah dan menekan penyebaran HIV/Aids melalui cara apapun. “KSPAN merupakan sarana yang tepat untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba dan penyebaran HIV/Aids pada usia remaja”terangnya.
Lebih dalam Wabup Sedana Arta menjelaskan, program pencegahan HIV/Aids melalui jalur sekolah di Kabupaten Bangli telah berjalan sejak bulan September 2007. Salah satu kegiatannya adalah dengan menyelenggarakan pelatihan guru Pembina. Dilanjutkan dengan pembentukan organisasi Forum Guru Pembina KSPAN Kabupaten dan dimasing-masing sekolah, guru pembina bersama-sama anak didik yang telah dilatih sebagai tutor kemudian membentuk Kelompok Siswa Peduli Aids dan Narkoba. Melalui KSPAN kita ingin memberikan informasi yang lebih baik kepada masyarakat. Sehingga dengan adanya informasi yang lebih baik, masalah HIV/Aids sudah tertangani dengan baik dibandingkan sejak pertama kali ditemukan.  “Kalau dulu orang tidak percaya HIV/Aids ada disekeliling mereka, namun sekarang banyak yang sadar masalah ini dekat dengan mereka. Makin banyak kasus ditemukan tidak menunjukan masalah ini tidak bisa ditangani, justru menunjukkan keberhasilan. Sebab HIV/Aids memang seperti fenomena gunung es yang faktannya masih banyak yang belum muncul kepermukaan. Makin banyak dideteksi yang positif makin mudah pula penangannya”terangnya.
 
Sementara itu ketua tim penilai Dra. Gusti Agung Ayu Mertha Dhyani Dewi, M.Si mengatakan, berdasarkan data Diskes Provinsi Bali sampai bulan Oktober 2014, secara komulatif ada 10.174 kasus  HIV/Aids di Provinsi Bali. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan dan perlu penanganan dan pencegahan secara dini. Menurutnya, selama ini sering kita jumpai dimasyarakat penderita HIV/Aids menanggung beban berat. Tidak saja karena masalah biologis penyakit tetapi juga beban psikologis akibat stigma dan dikriminasi. Masyarakat masih cenderung menolak keberadaan penderita HIV/Aids. Oleh karenannya, peran KSPAN kita dorong untuk mensosialisasikan pencegahan penanggulangan HIV/Aids serta narkoba agar ada pemahaman yang mendalamkarena kurangnya wawasan dan kekeliruan cara pandang yang salah dan akhirnya bermuara pada penyimpangan program dan kegiatan pencegahan penanggulangan. “Kita berharap keberadaan KSPAN mampu menyadarkan semua pihak, khususnya warga sekolah untuk mencegah dan menekan perkembangan penyakit HIV/Aids”harapnya.
Bagikan Berita Ini: