Sebanyak 150 pasang atau 300 penari Tari Gandrung hadir memeriahkan Peringatan Hari Ibu ke-86, HUT Dharma Wanita Persatuan ke-15 dan Hari Kesatuan Gerak PKK-KB Kes Tahun 2014 di Kabupaten Bangli. 300 penari Tari Gandrung ini berasal dari unsur SKPD, perwakilan sekolah dan desa. Tari Gandrung masal yang dipentaskan selama 30 menit ini dipusatkan dilapangan Kapten Mudita Bangli.
Penggagas Tari Gandrung masal Ny. Erik Gianyar yang tak lain adalah istri Bupati Bangli I Made Gianyar seusai acara berlangsung mengatakan, tari gandrung merupakan hiburan rakyat yang sangat populer dikalangan masyarakat pedesaan diera tahun 50an. Namun tari ini sempat mengalami masa suram justru ketika berkembang jenis-jenis kesenian lain. Oleh karenanya, untuk membangkitkan kesenian yang adhi luhung ini pihaknya menggandeng tokoh-tokoh masyarakat Desa pakraman Pengotan dimana tari ini sempat eksis diwilayah ini serta melibatkan beberapa seniman renta yang terlibat pasa masa jayannya kesenian tari gandrung dimasa lalu, pihaknya berhasil merekontruksi tari gandrung sehingga bisa dipentaskan pada puncak acara hari ini.
Lebih lanjut Erik Gianyar menyampaikan, sepintas tari gandrung tidak jauh beda degan tari joged bungbung yang sangat terkenal di Bali. Namun ada beberapa ciri yang membedakannya. Yakni penari tari gandrung diwajibkan mengenakan busana yang sopan, tidak seronok dan melenceng dari norma-norma keseopanan adat budaya Bali. Sedangkan pakem tari tidak jauh berbeda, hanya pada bagian “Ibing-ibingan” tidak diperkenankan ada gerakan yang sampai bersentuhan antara penari dan pengibing dan yang terpenting gerakan porno sangat tidak diperkenankan pada tari gandrung ini. “Termotivasi untuk melestarikan kekayaan budaya Bali ini, kita mencoba menampilkan tari gandrung secara masal untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Bali sangat kaya akan seni dan budaya yang patut kita jaga dan lestarikan”terangnya.
Hal senada juga disampaikan Ketut Suarno salah seorang seniman asal Desa Pengotan, Bangli. Merurutnya tari gandrung merupakan cikal bakal dari perkembangan tari joged bungbung sebagai tari pergaulan masyarakat Bali. Sehingga tari gandrung yang hampir punah ini patut mendapat perhatian agar keberadaanya tidak dilupakan dan ditinggalkan. Menurut Ketut Suarno sekaa (kelompok) tari gandrung yang sempat populer di desanya diera tahun 50an, biasanya beranggotakan 2 orang penari dan 15 orang penabuh yang alat musiknya semuanya berbahan bambu. Uniknya, tarian ini tidak dicari oleh masyarakat, akan tetapi sekaa dari tari ini yang ngelawang (berkeliling) kepenjuru desa untuk menghibur masyarakat. Keunikan lainnya, saat itu sekaa tari gandrung tidak dibayar dengan uang, akan tetapi dibayar dengan beras atau sejenisnya. Hasil dari ngelawang tersebut kemudian dibagi rata oleh sekaa.
Lebih dalam Suarno menjelaskan, tari gandrung yang sangat populer kala itu sempat menghilang ketika tahun 60an terjadi erupsi Gunung Agung yang sangat dasyat. Menggingat jarak Desa Pengotan yang berada didataran tinggi dekat dengan Gunung Agung, efek letusan berimbas pada kehidupan masyarakat. Ketika itu debu dan pasir hasil letusan Gunung Agung menutupi sebagian besar lahan pertanian penduduk sehingga tidak bisa digarap secara maksimal. “Jangankan memikirkan seni, memikirkan isi perut saja saat itu masyarakat sangat susah. Oleh karenanya kala itu tari gandrung sempat menghilang”terangnya.
Namun seiring perkembangan zaman, sambung dia, lahirlah era seni baru dengan munculnya berbagai jenis tari baru seperti joged bungbung dan tari kreasi modern yang mengakibatkan tari gandrung ditingkalkan dan dilupakan. Namun untuk menyelamatkan keberadaan tari gandrung, tahun 2012 tokoh-tokoh masyarakat Desa Pengotan yang tergabung dalam kelompok “Sekaa Gandrung Candra Seka” mencoba merekontruksi kembali tari gandrung. Untuk menyempurnakan rekontruksi tari gandrung, pihaknya juga menggandeng maestro tari gandrung Men Coblong (80) dan pembuat musik Nang Rai serta penggelut tabuh Nang Salin. Hasilnyapun cukup menggembirakan, tari gandrung mulai sering dipentaskan diberbagai kesempatan saat kegiatan adat maupun keagamaan di Desa Pengotan. Dan puncaknya tari gandrung bisa dipentaskan secara masal saat puncak peringatan Hari Ibu di Kabupaten Bangli.
Sementara itu Wakil Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta pada kesempatan itu menyampaikan, pihaknya sangat menyambut antusias pagelaran secara masal tari gandrung yang melibatkan 300 penari. “Kita sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, karena mengedepankan pelestarian seni dan budaya bali. Mudah-mudahan melalui kegiatan seperti ini, banyak seni budaya yang dapat diangkat sehingga bisa lebih dikenal dan dicintai oleh masyarakat”harapnya.
Terkait dengan Peringatan Hari Ibu ke-86, HUT Dharma Wanita Persatuan ke-15 dan Hari Kesatuan Gerak PKK-KB Kes Tahun 2014 di Kabupaten Bangli, Wabup Sedana Arta menyampaikan terima kasih kepada para ibu dan wanita yang telah berperan penting dalam pembangunan di Kabupaten Bangli.