Ketua TP PKK Bangli Bantu Keluarga Miskin 11 Anak
Beranda / Berita

Pusat Informasi & Berita

Ikuti perkembangan program kerja terbaru.

Pariwisata

Ketua TP PKK Bangli Bantu Keluarga Miskin 11 Anak

K
Admin Bangli
21 June 2015
558 Dilihat
Ketua TP PKK Bangli Bantu Keluarga Miskin 11 Anak
Ala bisa karna sudah terbiasa, banyak anak banyak rejeki ungkapan itu yang mungkin pas untuk menggambarkan kondisi keluarga Wayan Slamet (51) dan istri Ketut Kasih (45) asal Br. Batu Meyeh, Desa Songan B, Kecamatan Kintamani Bangli yang dalam kesehariannya hanya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Betapa tidak ditengah kondisi ekonomi yang serba kekurangan, pasangan suami istri ini pun harus berjuang hidup untuk mencukupi kebutuhan 11 orang anak yang kebanyakan masih berusia anak-anak.
Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan konsdisi Bali yang notabene sebagai daerah basis pariwisata namun didalamnya masih banyak warga yang berada dibawah garis kemiskinan. Hal ini pula menjadi gambaran bahwa program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan pemerintah pusat belum berjalan secara optimal khususnya pada daerah terpencil.
Untuk mencapai lokasi ini diperlukan  waktu 2 jam perjalanan dari kota Bangli. Lokasinya pun tidak sepenuhnya bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda empat, mengingat medannya cukup berat bahkan bagi para pendaki sekalipun. Hampir sebagian besar rutenya menanjak, hanya sesekali landai. Bahkan beberapa area langsung bersebelahan dengan jurang. Jalan setapak yang cukup sempit, ditambah tanah berdebu pada lahan gersang dan ketidaktersediaan air, membuat perjalanan semakin berat. Sekali seseorang menjejakkan langkah, debu akan langsung berhampur, bahkan sampai setinggi tubuh.
Sesampainya dilokasi, pemandangan mencengankan terlihat, karena keberadaan keluarga besar ini sangat jauh dari kata sehat dan sejahtera, ditambah keberadaan rumah dan fasilitasnya yang sangat tidak layak. Berdasarkan pengakuan Wayan Selamet dirinya dan istri tidak merasa susah memiliki banyak anak, karena diwilayahnya banyak anak itu adalah hal yang biasa. Kata dia, untuk kebutuhan sehari hari ia dan keluarganya hanya mengkonsumsi cacah (ketela pohon dipotong kecil dan dikeringkan) sebagai makanan pokok sehari-hari. Ia pun bercerita, bahwa tidak pernah memikirkan pendidikan anak sejauh mana. Terlebih jarak anak-anaknya  sangat berdekatan, rata-rata hanya berjalaK 1 sampai 2 tahun.
Menengar kondisi yang cukup mencengankan ini, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bangli Ny. Erik Gianyar didampingi Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Bangli Ir. Ketut Kayana dan ketua Darmawanita Persatuan Kabupaten Bangli Ny. Giri Putra, Rabu (17/6) melaksanakan kunjungan sekaligus menyerahkan sejumlah bantuan kepada yang bersangkutan.
Ny. Erik Gianyar pada kesempatan itu mengatakan, kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematik, terpadu dan menyeluruh. Upaya percepatan penanggulangan kemiskinan perlu dilakukan melalui langkah-langkah koordinasi secara terpadu antar sektor dan antar wilayah dalam merumuskan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Oleh karenanya pemberantasan kemiskinan tidak semata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan kerjasama semua pihak utamanya masyarakat disekitar kemiskinan berada.  “Kemiskinan didaerah terpencil terkadang sulit terdeteksi. Apalagi akses jalan menuju daerah tersebut sangat sulit dijangkau. Sehingga peran dari masyarakat sekitar sangat menentukan keberhasilan program pengentasan kemiskinan”terangnya.
Sementara itu kepala BPPKB Kab Bangli Ir. Ketut Kayana mengatakan, kejadian yang dialami keluarga Wayan Selamet tidak boleh lagi terjadi di Bangli. Pihaknya berjanji akan lebih gencar lagi mensosialisasikan program KB sampai ke plosok. Kita ingin paradigma banyak anak banyak rejeki bisa ditinggalkan. Yang lebih tepat adalah dua anak cukup dengan pola asuh yang bekualitas. Pihaknya juga menekankan agar masyarakat bisa lebih mematangkan usia perkawinan, dimana usia ideal untuk pria menikah adalah 25 tahun sedangkan untuk wanita 21 tahun. Selain itu menurutnya, jarak kelahiran anak pun harus diatur sedemikian rupa, sehingga kita bisa memantau tumpuh kembang anak dengan maksimal. Kata Ketut Kayana,  jika masih ada kondisi keluarga yang memiliki kondisi sama dengan Wayan Selamet, agar bisa menyampaikan kepada pihaknya agar bisa segera ditindaklanjuti. “Sosulsi yang bisa kita berikan kepada keluarga yang memiliki kasus sama dengan Wayan Selamet adalah dengan menyarankan vasektomi ataupun melakukan steril. Karena yang menjadi korban dalam kasus ini adalah “pungkasnya. 
Bagikan Berita Ini: