Sekda Bangli Pimpin Rombongan Ngaturang Bakti Pada Karya Penaung Bayu Di Pura Batu Madeg
Beranda / Berita

Pusat Informasi & Berita

Ikuti perkembangan program kerja terbaru.

Pariwisata

Sekda Bangli Pimpin Rombongan Ngaturang Bakti Pada Karya Penaung Bayu Di Pura Batu Madeg

K
Admin Bangli
12 November 2015
710 Dilihat
Sekda Bangli Pimpin Rombongan Ngaturang Bakti Pada Karya Penaung Bayu Di Pura Batu Madeg
Humas Bangli,
Dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta yang sangat erat kaitanya dengan bidang pertanian tradisional di Bali dengan lembaga yang dikenal subak, Rabu (11/11) kemarin, melalui Bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Bangli yang di pimpin oleh Sekda Ir. IB Gde Giri Putra menggelar persembahyangan pada puncak Karya Penaung Bayu Tilem Kalima. Acara yang di Gelar di Pura Batu Madeg dipuput oleh dua sulinggih yaitu Ida Pedanda Jelantik Dangin dari Geria Alang Kajeng Nongan dan Ida Padanda istri Sindu dari Geria Bukit Bangli. Dalam pelaksanaan persembahyangan tersebut turut hadir Ketua PHDI Kab Bangli, Pimpinan SKPD dilingkungan Kab Bangli beserta jajarannya, Pemuka Subak dan Pekaseh seluruh Bali serta prajuru adat dan masyarakat setempat.
Manggala Karya Jro Mangku Widiarta menyampaikan sekilas tentang Pura Batu Madeg, bahwa Pura Batu Madeg merupakan sebagai Istana Bhatara Wisnu yang mempunyai fungsi dalam melindungi dan memelihara alam semesta, pencipta kemakmuran yang sangat berkaitan dengan bidang pertanian di Bali. Subak merupakan salah satu lembaga tradisional dibali adalah suatu masyarakat hukum adat yang bersifat Sosio Agraris, Religius dibidang pengaturan irigasi dan lainnya yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana. Lanjut, di Pura Batu Madeg inilah setiap tahun digelar Upacara Karya Penaung Bayu tepatnya pada Tilem Kalima. Dijelakan, Makna dari Karya Penaung Bayu ini adalah merupakan suatu permohonan kepada Tuhan, sekaligus sebagai peringatan kepada umat manusia agar selalu memelihara dan melindungi sumber air di seluruh Bali, sehingga para pemuka Subak dan Pekaseh se Bali turut hadir utnuk dapat menyaksikan karya Penaung Bayu tersebut. “dengan adanya karya yang disaksikan oleh seluruh para pemuka Subak dan Bekaseh sebali, diharapkan agar mereka selalu ingat untuk selalu menjaga dan memelihara sumber-sumber air yang ada di Bali sebagai sumber kehidupan dan kesuburan pertanian dalam arti luas” terang Jro M. Widiarta. Lanjut dalam kata Penaung Bayu juga terdapat arti memelihara secara aktif dan kontinyu, jika terdapat kerusakan agar segera dapat ditanggulangi. Sedangkan Naung berarti  membayar atau urunan Bayu adalah tenaga yang dalam tubuh manusia terdapat darah yang merupakan Bayu, sehingga dalam tanah jika tidak terdapat air maka tanah tersebut tidak akan bermanfaat untuk dapat menumbuhkan kesuburan pertanian. Oleh karena itu untuk menjaga dan melindungi sumber-sumber air inilah fungsi utama dari didirikannya pura Batu Madeg. “Dalam upaya menjaga sumber-sumber air tersebut diperlukan tuntunan spiritual dari tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu, dengan pemakaian warna serba hitam sebagai lambang kesuburan” terangnya.
Sementara Sekda Bangli Ir. IB. Giri Putra menyampaikan persembahyangan dalam Upacara Karya penaung Bayu yang jatuh pada Tilem Kalima, merupakan wujud srada bakti kepada sesuwunan yang berstana di Pura Batu Madeg ini karena atas rahmat beliao kita sudah diberkahi kesejahteraan dengan sumber air yang melimpah untuk pertanian dalam arti luas. Selain itu kegiatan ini merupakan salah satu Kewajiban Pemerintah dalam hal menjaga dan memelihara sumber air yang ada di Bali pada umumnya dengan Konsep dasar yaitu Tri Hita Karana. “Dari sigi spiritual telah dilangsungkannya karya Penaung Bayu ini, Kedepan bagaimana masyarakat di Bali bisa terus diberkahi kemakmuran dengan secara nyata dan berksenambungan menjaga dan memelihara sumber-sumber air dan irigasi untuk pertanian dan lain sebagaainya tentunya untuk kesejahteraan masyarakat di Bali” harap Sekda IB. Giri Putra.
Bagikan Berita Ini: