Humas Bangli,
Dalam upaya meningkatkan peran WHDI dan kiprahnya dalam pmbangunan baik daerah maupun nasional dan sebagai upaya untuk mendorong terciptanya generasi penerus yang memiliki kualitas dan SDM yang handal maka dalam usia yang menginjak 28 tahun, organisasi WHDI Propinsi Bali menggelar pelaksanaan HUT WHDI yang ke-28 tahun yang diselenggrakan di kabupaten Bangli sebagai tuan rumah. Acara yang di pusatkan di Balai Pesamuan Banjar Adat Kubu Desa Adat Kubu Kelurahan Kubu, Kecamatan angli dihadiri oleh Bupati Bangli, Wakil Bupati Bangli, Ketua WHDI Pusat, FORKOMPINDA Kab. Bangli, Ketua DPRD Kab Bangli, Ketua WHDI Provinsi Bali, Ketua WHDI Kabupaten Kota se Bali, Kepala Biro Kesra Provinsi Bali, Sekda Kab Bangli dan pengurus serta undangan lainnya.
Ketua WHDI Kabupaten Bangli Nyonya Sariasih Sedana Arta dalam laporanya menyampaikan pelaksanaan perayaan HUT WHDI Provinsi Bali didasari oleh anggaran dasar dalam anggaran rumahtangga WHDI dengan SK Propinsi Bali nomor 39/SK/WHDI/1/2016 dan SK Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Bali tentang pembentukan panitia perayaan HUT WHDI Provinsi Bali tahun 2016. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengingatkan kepada seluruh anggota WHDI agar selalu ingat dan eling kepada jatidirinya sebagai wanita hindu serta meningkatkan kreatifitas dan srada bakti sebagai WHDI. Kegiatan yang terselenggara kali ini mengambil tema “Peran Wanita Hindu Darma Indonesia dalam mewujudkan generasi muda yang berkualitas dalam keaneka ragaman”. Lanjut serangakaian kegiatan telah dilakukan dalam memeriahkan hari HUT WHDI yang ke 28 diantaranya adalah lomba tari legong trisakti, Lomba darmawacana dengan peserta SMA/SMK, Lomba membuat Cane peserta remaja Putri, lomba membuat canang sari, tari bungan sandat serasi, lomba makidung untuk acara manusa yadnya dan Pitra Yadnya, lomba gebogan buah lokal serta lomba berbusana adat kepura untuk remaja putri. Bukan hanya itu kegiatan sosial juga menjadi salah satu sasaran diantaranya dengan melaksanakan Seminar mengenai kunker servik serta pelaksanaan pupsmir bagi anggota dan pengurus WHDI. Berikutnya menggelar pasar murah dalam menyambut hari raya galungan dan kuningan, bantuan paket sembako kepada warga kurang mampu sebanyak 500 paket untuk Desa Pengotan dan Landih, 200 paket untuk Kelurahan Kubu serta bantuan buku untuk anak sekolah.
Bupati Bangli I Made Gianyar,SH.,M.Hum dalam sambutanya mengaapresiasi karna Kabupaten Bangli berkesempatan untuk menjadi tuan rumah dalam perayaan HUT WHDI tahun ini. Hari ini Masyarakat Bangli yang terepresentasikan dalam Wantilan ini semuanya berbahagia karena telah kedatangan tamu dalam rangka memperingati HUT WHDI yang ke 28. Kami selaku perwakilan dan representasi dari masyarakat Bangli ucapkan selamat datang kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir diacar ini. Kami telah lakukan dan kerahkan segala upaya untuk dapat mendukung terlaksananya kegiatan ini, apalah daya kemampuan kami terbatas “maksud hati memeluk gunung apalah daya tangan tak sampai” ungkap Made Gianyar. Sehingga dengan keterbatsan dan tangan yang tak sampai inilah kepada bapak dan ibu para undangan untuk dapat menyambungkannya sehingga didlam hati kita semua yang hadir di tempat ini akan mampu membangun kesempurnaan hidup dalam menata kehidupan yang lebih baik. “Sebagai wakil masyarakat Bangli mengucapkan selamat Ulang Tahun WHDI yang ke 28 semoga tapakannya kedepan akan mampu menjalankan kaidah-kaidah dan norma-norma serta anggaran dasar yang telah disepakati yang dirangkum dalam sebuah lagu yang disebut Mars WHDI” pungkasnya. Kami berharap bahwasanya WHDI ini muncul dari spirit kedaerahan yang diawali dari tahun 1979dimana para wanita hindu yang ada dijakarta sangan memerlukan sebuah wadah, dimana tindakan yang parsial jika tidak terorganisir dalam sebuah organisasi maka hasilnya tentu juga tidak akan baik, maka disepakati dalam sebuah pertemuan dibuatlan persatuan Wanita Hindu yang ada di DKI Jakrta, berikutnya disusul oleh seluruh daerah dan hal itu dianggap perlu oleh seluruh wanita hindu maka dipilihlah pada sebuah pertemuan bahwa tanggal 12 Pebruari 1988 sebagai tonggak kelahiran WHDI secara hati, secara univikasi da kesatuan di seluruh republic Indonesia. Lanjut Organisasi ini juga adalah organisasi sosialyang basisnya berlandaskan ajaran agama, “kami berharap WHDI bisa kami ajak untuk membangun bangle yang lebih baik, karena kita di Kab Bangli mempunya konsep pembangunan Membangun Bangli dari Desa dengan Program GERBANGDESIGOT, membangun desa dari Keluarga dengan Program POSDAYA sehingga WHDI dapat menjabarkan bahwa membangun kelurga dengan ketulusan harti dari para ibu” imbuh made Gianyar.
Sehinga sesuai dengan konsep WHDI menciptakan generasi penerus yang berkualitas dan berkepribadian dapat terujud dimana dul akhirnya adalah terwujudnya program pemerintah yaitu Repolusi Mental. Sehingga dengan kondisi tersebut WHDI dapat mengambil peran sebagai ujung tombak dari setiap gerak Pembangunan dimulai dari keluarga yag lebih baik.
Ketua WHDI Pusat Ny. Ir. Rataya B. Kentjanawathy Suwisma menyampaikan syukur dan terimakasih kepada para pendahulu, para pendiri, para fungsionaris, para penggiat dan anggota yang telah mendahului kita. Semoga semua karya yang tertoreh sebagai catatan sejarah perjalannan organisasi ini dapat berlanjut terus. Kita yang telah memperoleh kesempatan untuk mengemban tanggung jawab dalam organisasi yang kita cintai bersama dapat diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan dan mengembangkan kehidupan organisasi kearah yang lebih baik. “tema yang di anggkat dalam HUT WHDI kali ini sanagt relevan karena menganmdung makna pemahaman tentang pentingnya pendidikan karakter bangsa khususnya bagi generasi muda sebagai penerus bangsa dimasa depan karena generasi muda adalah potensi yang paling strategis dalam membangun sumberdaya manusia melalui pelayanan pendidikan, peningkatan kesehatan dan perbaikan gizi yang dimulai sejak dalam kandunga sampai usia remaja” terangnya. Berbicara mengenai generasi muda berkualitas hal ini menjadi perhatianumat hindu, yang jelas tertuang dalam Grand Design Hindu Dharma Indonesia, yang merupakan upaya-upaya strategis memperkuat mental, srada bhakti dan rasa kebangsaan generasi muda Indonesia untuk lebih sadar akan nilai-nilai budaya bangsa yang pancasila. Semua sumberdaya baik material maupun intelektual yang dimiliki agar dapat digunakan untuk mencapai tujuan kehidupan yang lebih baik terutama bagi kelanjutan generasi muda sehiongga globalisasi tidak hanya implikasi negatifnya yang menonjol, tetapi bagaimana kita bisa mengupayakan agar dapat memanfaatkan dampak positif yang ditimbulkan. “ harapan kita pada generasi muda agar dapat merenungkan sejauh mana kecerdasan kita untuk dapat memilah mana yang baik dan yang tidak baik ssehingga kita memiliki keyakinan dan etika yang kuat dan dapat bertindak sesuai dengan keyakinan tersebut” harapnya.
Sementara Ketua WHDI Provinsi Bali Nyonya Bintang Puspayoga menyampaikan kegiatan perayaan HUT WHDI kali ini tentu tidak lepas dari tema yaitu mewujudkan Generasi Muda yang cerdas dalam Keanekaragaman. “Di WHDI kita tetap memprioritaskan pendidikan baik formal dan informal utamannya pada generasi muda lebih pada pendidikan pranikahkarna denga hal tersebut kita bisa mewujudkan wanita hindu yang berkualitasyang nantinya akan melahirkan generasi yang mampu mewujudkan keluarga yang sakinah bawantu” terangnya. “saat ini dirinya sangat bangga dengan kiprah wanita hindu di bali khususnya terbukti telah lahir du pemimpin wanita di bali, hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya apabila wanita hindu jika diberikan kesempatan maka sanagt mungkin akan dapat dipertangungjawabkan” pungkasnya. Hal yang paling penting adalah di era globalisasi ini bagaimana kita sebagai wanita hindu agar terus meningkatkan kemampuan baik akademik dan non akademik terlebih dalam menyosong MEA, hal itu janganlah kita jadikan ancaman tetapi melainkan dijadikan motivasi bagi kita WHDI untuk terus meningkatkan kemampuan kita agar bis bersaing.
Banyak hal memang harus kita perbaiki utamanua generasi muda utamnya etika kaitanya dalam menjaga adat dan tradisi salah satu contoh yaitu busan adat kita boleh saja mberkreasi denag modifikasi tetapi ingat dimana hal tersebut dapat digunakan tentunya untuk busana kepura harus disesuaikan dengan etika dan kesopanan, hal hal seperti it uterus kita gelorakan di kalangan anak muda “kedepan saya berharap agar kita tetap menjadi Wanita Hindu Bali yang sealu bekerja keras seperti sebagaimana telah diakuai masyarakat luas bahwa wanita Hindu Bali adalah wanita pekerja keras dan tetap menjunjung tinggi etika dalam berbusan sesuai adat bali” Harap Bintang Puspayoga.