Untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit ginjal kronik, Instalasi Hemodialisis (HD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangli, Minggu (28/2) menggelar sarasehan Hemodialisis dalam rangka mewujudkan pelayanan hemodialisis yang berkualitas. Acara yang digelar di wantilan Desa Wisata Penglipuran menghadirkan narasumber Prof. Dr. dr. I Gde Raka Widiana, Sp.PD.KGH. konsultan HD Bangli dan dr. I Made Rama Putra, Sp.PD. Acara ini dibuka oleh Direktur RSUD Bangli dr. Wayan Sudiana, M.Kes.
Ketua panitia penyelenggara Ni Nengah Mariani,A.Md. Kep. pada kesempatan itu mengatakan, tujuan dari penyelenggaraan sarasehan hemodialisis ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit ginjal kronik, hemodialisis dan diet PGK serta reassessment terhadap keluhan pelayanan hemodialisis RSUD Bangli.
Dikatakan juga, sarasehan ini diikuti oleh 67 orang pasien hemodialisis dan 1 orang pendamping. Sedangkan latar belakang dilaksanakannya sarasehan ini adalah kejadian penyakit gagal ginjal di Indonesia semakin meningkat. Bahkan menurut data statistik yang dihimpun Perhimpinan Nefrologi Indonesia (Pernefri), jumlah pasien gagal ginjal di Indonesia mencapai 70.000 orang dan hanya sekitar 13.000 pasien yang melakukan hemodialisis atau cuci darah. Sehingga sarasehan ini penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis. "Sarasehan ini penting mengingat selain pasien keluarga pasien juga dilibatkan. Sehingga mereka akan lebih sayang dengan ginjalnya" terangnya.
Sementara itu dr. I Made Rama Putra, Sp.PD yang juga kepada instalasi hemodialisis RSUD Bangli pada kesempatan itu mengatakan, ginjal merupakan bagian dari tubuh yang mempunyai fungsi vital bagi manusia. Sebagai bagian dari sistem urin ginjal berfungsi menyaring kotoran dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Menurutnya, gagal ginjal adalah suatu kondisi dimana ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal. Penurunan fungsi ini terjadi dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium darah atau produksi urin.
Disampaikan juga, hemodialisis merupakan terapi pengganti kerja ginjal yang dilakukan 2-3 kali seminggu dengan lama waktu 4-5 jam. Tujuannya tiada lain untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme protein dan mengoreksi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. “Melalui sarasehan ini diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit ginjal kronik serta pantangan dan pencegahannya”harapnya.
Sementara itu salah seorang pasien hemodialisis Sang Made Sumitra mengatakan, sebagai salah satu pasien hemodialisis RSUD Bangli pihaknya menyambut antusias sarasehan ini karena banyak pengetahuan didapatkan melalui penyampaian narasumber yang berkopeten. Terlebih selama selama setahun lebih menjalani terapi hemodialisis di RSUD Bangli, dirinya mendapat pelayanan yang baik. Disamping itu kekeluargaan antara pasien dan petugas terjalin dengan baik. “Saya senang dengan suasana di instalasi hemodialisis karena hubungan antara pasien dan petugas seperti keluarga, penuh keakraban. Jadi saya sangat nyaman”pungkasnya.