Sehari menjelang pelaksanaan hari raya nyepi tahun caka 1938 atau bertepatan dengan anggara paing pujut, Selasa (8/3) Pemerintah Kabupaten Bangli menggelar upakara Tawur Agung di Catus Pata Bangli. Upakara tawur agung dimaksudkan untuk menetralisir aura negative dan mengharmonisasi alam beserta isinya. Upakara tawur agung yang dimulai sejak pukul 10 wita, dihadiri oleh Bupati Bangli I Made Gianyar, SH.,M.Hum, Wabup Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, SE, Ketua DPRD Bangli Ngakan Made Kutha Parwata, Dandim 1626 Bangli Agus Irianto Wahyudi dan pimpinan SKPD dilingkungan Pemkab Bangli.
Ketua PHDI Bangli Nyoman Sukra menjelaskan, rentetan upakara tawur agung yang rutin diselenggarakan setiap setahun sekali, sudah dimulai sejak kemarin dengan melaksanakan upakara pemelastian di segara yang bertujuan untuk membersihkan dan menghanyutkan segala bentuk kotoran bhuana agung dan bhuana alit. Setelah pemelastian dilanjutkan dengan melaksanakanupacara mapapada agung di catus pata untuk menyucikan hewan yang akan dijadikan persembahan dalam tawur agung.
Dikatakan juga, tujuan dari pelaksanaan tawur agung adalah untuk pengharmonisasian alam semesta berserta isinya serta menetralisir aura negatif, sehingga umat hindu kshusunya bisa menjalankan catur brata penyepian dengan baik.
Lanjut dia, tawur agung kali ini dipuput tiga sulinggih, yakni Ida Pedanda Temuku dari Gria Jaksa Br. Pande Bangli, Ida Pedanda Buda dari Gria Alangkajeng, Nongan Karangasem dan Ida Rsi Prabangkara dari Gria Kawan, Br. Kawan Bangli dengan mengambil tingkatan utamaning utama, yang menggunakan sarana wewalungan kebo, godel, kucit butuan, ayam maca warna, angsa dan bebek. “Dengan pelaksanaan tawur agung ini diharapkan alam beserta isinya bisa kembali harmoni”harapnya.
Sementara itu Bupati Bangli I Made Gianyar mengharapkan agar masyarakat Bangli khususnya bisa menjalankan catur brata penyepian dengan baik. Sehingga pergantian tahun baru caka 1938
menjadi momentum dalam meningkatkan kesadaran akan keberadaan kita sebagai umat manusia, sehingga hubungan manusia dengan tuhan, kerukunan antar sesama dan hubungan dengan lingkunganya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan konsep tri hita karana. “Semonga dengan catur brata penyepian, masyarakat bisa lebih memaknai arti kehidupan”harapnya.
Disisi lain Wabup Bangli Sang Nyoman Sedana Arta mengingatkan, terkait dengan pelaksanaan malam pengrupukan, pihaknya meminta agar pelaksanaan pengarakan ogoh ogoh dimasing masing desa bisa berjalan dengan tertib masyarakat diminta cukup menggunakan obor dan pentungan kulkul tanpa menggunakan petasan ataupun meriam yang dapat menggangu kenyamanan warga saat menjalankan pengrupukan. Menurutnya, pengrupukan akan jauh lebih semarak tanpa adanya bunyi bunyian yang keras dari meriam ataupun petasan. “Obor dan pentungan kulkul saja cukup untuk mengiringi ogoh ogoh. Jadi tidak perlu ada suara ledakan meriam”pungkasnya.