Lomba desa merupakan kompetisi dan evaluasi hasil pembangunan desa yang bersifat mendorong usaha kebersamaan dan keswadayaan gotong royong yang wajib dilaksanakan setiap tahun secara berjenjang. Oleh karenanya lomba desa diharapkan dapat dimaknai dengan baik sehingga dapat dijadikan tolak ukur untuk mengetahui kemandirian desa, keberlanjutan pembangunan, daya saing dan kesejahteraan masyarakat desa. Demikian disampaikan Wakil Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta saat penilaian lomba desa tingkat Provinsi Bali di Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Bangli, Kamis (16/6). Acara ini juga dihadiri oleh Pimpinan DPRD Bangli Ketut Mastrem, Kepala BPMPD Bangli Dewa Agung Riana Putra, Kadiskes Bangli dr. Nengah Nadi, Wakil Ketua TP PKK Bangli Ny. Sariasih Sedana Arta, Perbekel Desa Katung Wayan Warsana dan masyarakat Desa Katung.
Lebih lanjut Wabup Sedana Arta menyampaikan, pada dasarnya lomba desa dimaksudkan untuk menguatkan partisipasi, kerjasama serta kemandirian masyarakat dalam pembangunan desa, yang ditandai dengan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di tiga bidang, yakni pemerintahan, kewilayahan dan kemasyarakatan.
Dalam konteks arah pembangunan nasional, sambung Wabup Sedana Arta, NAWACITA Presiden kita, dimana pada bagian ketiga menyebutkan membangun Indonesia dari pinggiran dengan mengembangkan potensi dan memberdayakan masyarakat desa sudah lebih dulu dilakukan di Kabupaten Bangli. Dimana sejak tahun 2010 Pemkab Bangli sudah menggelontorkan Alokasi Dana Desa (ADD) yang besar ke desa. Bahkan sejak tahun 2013 Pemkab Bangli juga telah menggelontorkan Dana Alokasi Umum (DAU) lebih dari 10 % kedesa. “Pengalokasian dana yang besar ke desa merupakan bentuk komitmen Pemkab Bangli untuk membangun Bangli dari desa”terangnya.
Menurut Wabup Sedan Arta, saat ini Bangli merupakan satu-satunya Kabupaten di Bali yang dijadikan percontohan penggunaan Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) dalam pelaksanaan pembangunan desa. Ini membuktikan perangkat desa di Kabupaten Bangli sudah selangkah lebih siap menggunakan teknologi dalam pelaporan keuangan desa. “Dengan Siskeudes pertanggungjawaban keuangan desa akan lebih mudah diawasi. Ini merupakan prestasi yang patut diapresiasi. Kalau desanya maju, Bangli juga pasti akan maju”pungkasnya.
Sementara itu Kepala BPMPD Provinsi Bali yang sekaligus ketua tim penilai Ir. Ketut Lihadnyana, MM mengatakan, partisipasi serta keswadayaan masyarakat harus dijadikan piranti dalam pemberdayaan masyarkat sehingga dapat mengakselerasi pembangunan di desa. Sehingga lanjut dia, tujuan dari perlombaan desa bukan semata-mata untuk mengejar prestasi melainkan untuk mengevaluasi tingkat perkembangan masyarakat, mendorong penguatan peran lembaga pemerintahan dan kemasyarakatan serta memberi apresiasi kepada masyarakat desa yang telah berinovasi dan berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Disampaikan juga, dalam lomba desa tahun ini, akan dilakukan penilaian dan evaluasi terhadap keberhasilan pembangunan dalam tiga bidang, yakni bidang pemerintahan yang meliputi aspek pemerintahan desa, kinerja, inisiatif dan keratifitas dalam pemberdayaan masyarakat serta pelestarian adat dan budaya, bidang kewilayahan yang meliputi aspek identitas, batas, inovasi, tanggap dan siaga bencana dan pengaturan investasi serta bidang kemasyarakatan yang meliputi aspek partisipasi masyarakat, lembaga kemasyarakatan, pemberdayaan kesejahteraan keluarga, keamanan, ketertiban, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan penanggulangan kemiskinan.
Pada kesempatan itu Ketut Lihadnyana juga menghimbau agar peserta lomba tidak terlalu menonjolkan acara seremonial. Akan tetapi pihaknya menginginkan peserta lebih menonjolkan inovasi dan prestasi yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Kita ingin peserta lebih menonjolkan inovasi dan prestasi bukan seremonial. Jangan sampai setelah lomba, desa punya banyak utang”pintannya.